
IT Entrepreuner, part time lecturer, fiction writer, playing crime investigator.
Bias. Itu kata pertama yang ada di benak saya membaca tulisan-tulisannya. Ada rasa penasaran yang membawa saya untuk terus membacanya dan membuat saya yang asalnya, ini nyeritain apa ya? sampai akhirnya ber-oooohhh ria. Suatu ketika saya pernah berkomunikasi dengannya, dan dia berkata bahwa selesai dengan misi #30harimenulis ini dia akan membuat sebuah novel, yang kemudian diamini oleh saya.
Pria yang satu ini memang berbakat dalam membuat cerita fiksi yang didasarkan pada pandangan-pandangan kritisnya tentang realita sosial yang ada di kehidupan sehari-hari warga Indonesia. Dan saya menyukai gaya penulisannya yang bermain dengan alur dan twist, sehingga setiap ceritanya selalu memiliki kejutan.
saya menyukai ceritanya yang ada di hari ke-3, yang bercerita tentang eksekutif muda (saya tidak berani memotong isinya, takut mengurangi esensinya)
Bagai sebuah slow motion lantai demi lantai dilalui. Mulai dari lantai 36, begitu lambat hingga sempat wajah istri dan anakku terbayang di benakku. Sempat juga kulihat sekarang sudah lantai 15. Pernahkah pikiranmu begitu acak? Sekedar berpikir, apakah mungkin punya tombol rewind untuk memutar waktu agar bisa kembali ke lantai 36. Hampir sampai, sekarang sudah di lantai 4, aku berpikir tentang Spiderman, tokoh superhero kesayanganku.
***
Saat Jam Kerja
Aku begitu terbawa emosi hari ini. Setelah kemarin meraup untung besar dalam perdagangan saham, hari ini semua ludes tak bersisa. Entah kenapa semua perkiraanku secara fundamental maupun teknikal terhadap nilai saham hari ini tidak ada yang benar.
Benar-benar habis tak bersisa, bahkan mobil yang masih terparkir di rumah, yang biasa dipakai istriku, dan mobil yang ada di gedung parkir kantor ini pun sebenarnya sudah bukan milikku lagi. Semua sudah kutukar sebagai modal di pertengahan sesi hari ini.
Apa kataku nanti pada istriku. Dalam sehari aku menjadi orang yang tidak punya apa-apa, hanya hutang yang menumpuk, karena di sesi akhir aku masih mencoba meminjam dari beberapa kolega yang memang sudah sangat percaya padaku.
Hasilnya nihil. Ya sudah malam ini aku pulang ke rumah. Rumah? Rumah siapa? Bukan rumahku lagi.
***
Setelah Jam Kerja
Sumpek dan gerah sekali di ruanganku. Sudah malam dan nampaknya AC gedung sudah dimatikan. Aku berniat merokok dulu di atap gedung, tempat mendaratnya heli. Biasa aku lakukan bila sedang suntuk, memandang gemerlap lampu kota dari atas.
Aku sudah di atap gedung, sambil terus melangkah, kuraih rokok dan pemantik. Angin begitu kencang, rokok tak kunjung berhasil kunyalakan. Tak sadar sampai aku di bibir gedung, yang dibatasi tembok setinggi dada. Pandanganku bisa melihat kebawah, gamang, mengerikan.
Lama termenung bersandar ke tembok itu. Sepertinya esok adalah hari yang sulit, memulai dari minus, bukan lagi nol. Belum lagi semua kebutuhan rumah tangga yang tetap harus dipenuhi, mulai dari kebutuhan sehari-hari, sekolah anak-anak, biaya ini dan itu. Status sosialku juga terlanjur tinggi, apakah aku mampu memulai lagi dari bawah? Apalagi istriku yang sudah sangat termanjakan.
Semua begitu kacau balau di pikiran. Tuduh menuduh. Kenapa terlalu emosi? Kemarin kan sudah menang banyak? Kenapa tidak stop begitu sudah rugi di awal, setidaknya masih ada yang tersisa kan?
***
Esok Pagi
“Koran-koran, korannya Pak? Seorang pria bunuh diri, melompat dari puncak menara.”
Dan jika benar pria yang satu ini berhasil menerbitkan kumpulan cerita fiksinya, saya akan segera pergi dan membelinya saat itu juga, Ditunggu om!
visit: http://samdputra.wordpress.com/